Sunday, August 17, 2014

Sejarah Janger Kedaton

         Kapankah tari Janger diciptakan? Siapakah penciptanya?Pertanyaan ini bisa diteruskan untuk seni tari lainnya,dan kita tak akan mendapatkan jawaban yangmemuaskanMenteri Kebudayaan dan Pariwisata JeroWacik ketika membuka pementasan Cak Kolosal diTanah Lot, 29 September lalujuga mempertanyakansiapakah pencipta tari Cakdan kapan diciptakan? Kalautahu siapa orangnyaJero Wacik ingin memberikanpenghargaan karena atas jasa dialah bisa disuguhkan Cak Kolosal yang membawa misiperdamaian ini. 


           Janger barangkali lebih muda dibandingkan Cak. Tetapisaya tak tahu persisbelumpernah menemukan buku tentang sejarah Janger. Kalau drama tari Gambuhsudah terbitbuku dengan editor Maria Cristina Formaggia. Ini buku tentang Gambuh yang palinglengkap. Gambuh diperkirakan sudah ada pada abad XIV dan terus mengalami evolusisampai abad XVII. Bentuk tarinya kemudian mengalami ''balinisasi'' di abad XIX sampaiabad XX. Laluini yang menyedihkanGambuh nyaris mati di abad XXI ini. 

      Bagaimana dengan Janger? Janger Kedaton berusia 100 tahun. Itu berarti Janger sudahberusia seabad lebihdan kita tidak tahu apakah usia sejatinya dua abad atau tiga abad.Belum ada penelitian ke arah itutermasuk bagaimana evolusi Janger dari abad ke abad.Bahwa di Banjar Kedaton telah ada Janger sejak tahun 1906 dan terus dipelihara dariwaktu ke waktu tentu merupakan prestasi tersendiri. Lestarinya kesenian di sebuah desadi Bali umumnya dikaitkan dengan hal-hal mistis. Janger Kedaton pun demikian.Masyarakat boleh beralih profesitetapi kesenian tetap dipertahankan karena dipayungioleh hal-hal mistis dan sakral. Perjalanan Janger ini menjadi sisi menarik yang layakdidokumentasikan. 

      Seni tari Janger mengalami banyak perubahan dari waktu ke waktu. Ini disebabkan poladasar tari Janger adalah adanya dua kelompok yang bertembang saling bersautan. Didaerah-daerah lain Nusantarajenis kesenian yang bertembang bersautan juga adabaikberupa kidung tradisional maupun berpantun. Dan, kesenian seperti itu mengalamiperubahan yang sama dengan Jangeryakni masuknya unsur-unsur aktual tentang situasidan kondisi masyarakat pada zamannya

       Janger yang ''tradisional'', meski belum ada penelitian tentang ituagaknya berceritatentang kelompok muda-mudi yang lagi dimabuk asmaraIni dilihat dari kelompok yangbercirikan gender, ada kelompok pria dan ada kelompok wanita. Mereka bertembangbersautan tentang kisah-kisah asmaradari cara berkenalanmenanyakan identitasdanmenjurus ke rayuanSemuanya dilakukan dengan riang gembira. Mungkin keriangan ituciri khas Janger yang tidak mengalami perubahan. 

    Pada dasawarsa 1960-an, terutama menjelang tahun 1965,Janger di Bali diracuni masalah politik yangmencerminkan adanya pertentangan di tengah-tengahmasyarakat. Ada Janger PKI dan ada Janger PNI danmereka saling sindir. Pakaian penari pun, terutamakelompok priamengalami perubahan sesuai dengansituasi saat itu. Janger kelompok pria memakai celana dansering di tangannya ada pedang. Jadigerak tarinya adalah kombinasi dari gerakan silat.Mereka berteriak dengan cara koor: ''Marhaen menangPancasila jaya'', itu bagi JangerPNI. Sedangkan janger PKI bernyanyi koor: ''Sama rata, sama rasasosialisme ala Indonesia.'' Banyak lagi jargon-jargon khas zaman itu, yang saat ini menjadi sesuatu yangmenggelikan untuk dikenang. 

    ''Janger politik'' itu tidak lagi bercerita tentang kisah asmaratetapi ''kisah keluarga'',melalui tembang-tembangnyaMisalnyaJanger kelompok pria bertembang tentangkepergiannya memperjuangkan nasib rakyatkalau dia meninggaljangan cari suami yangberlainan partai. Kelompok Janger wanita menjawab dengan tegasbahwa ia akanmelanjutkan perjuangan
Tetapi tidak semua sekaa Janger terlibat dalam ''politik praktis''. Ada yang netralnamuncara berpakaian dan isi tembang mengikuti perkembangan saat ituMisalnyaJangerkelompok pria bernyanyi tentang kepergiannya menjadi sukarelawan. Koor yangdikumandangkan selalu diakhiri dengan jargon: ''Ganyang Malaysia''. Janger kelompokwanita bertembang tentang cinta kasih sambil menyiapkan bekal untuk ''mengganyangMalaysia''. 

      Setelah meletusnya G-30-S/PKI, lama kesenian Janger menghilang. Masyarakat Bali trauma dengan Jangerseolah-olah kesenian itu adalah simbol dari ''sisi gelap'' Bali,betapa mudahnya orang Bali diadu-domba dan saling membunuh sesamanya. Janger barumuncul kembali di masa Orde Baru. Dan lagi-lagi Janger menjadi corong politik, kali ini''politik pembangunan''. Maka ada Janger tentang Keluarga Berencana. Meski kisah-kisahasmara masih adatetapi itu hanya sebagai pembuka sebelum masuk ke kisah intinyayaitu propaganda pemerintah tentang keberhasilannyaOrang tentu masih ingat,Gubernur Bali Ida Bagus Oka hampir setiap HUT Pemda Bali mengajak stafnya menariJanger. 

     Sejarah Janger semestinya diteliti lebih jauh. Kalaupun tak bisa menyeluruhdimulai darisejarah Janger lokal. Bagaimana perjalanan Janger Kedaton yang berusia 100 tahun itu,bagaimana perjalanan Janger Peliatan yang termasyur itu. Lagu bagaimana dengan kisah-kisah ''janger politik'' yang banyak muncul di Jembrana dan Tabanan di masa lalu. Apakita harus menunggu penulis asingseperti halnya tentang Gambuhuntuk membukukanriwayat Janger? * Putu Setia

Thursday, April 24, 2014

Hotel All Seasons Bali Denpasar

All Seasons Denpasar terletak di Pusat Kota Denpasar. Dari pantai Kuta berjarak kurang dari 20 menit. Hotel memiliki 153 kamar yang menawarkan desain kontemporer yang menciptakan suasana nyaman serta rileks untuk pelancong bisnis maupun pelancong santai.Tiap kamar dilengkapi fasilitas membuat teh dan kopi, brankas dalam kamar, TV LCD, juga tersedia koneksi internet WIFI gratis.
Hangat, ramah dan modern, dengan tempat tidur yang nyaman dan kamar mandi fungsional. Kamar kami memiliki semua yang Anda perlukan untuk kesenangan selama menginap.

DAFTAR KAMAR

    Kamar Superior Dengan 1 Tempat Tidur Queen
    Kamar beraneka warna dan modern dipadukan dengan sentuhan Bali, All Seasons Denpasar sungguh ideal untuk pelancong bisnis dan santai. Tiap kamar dilengkapi WiFi gratis serta musik dari Ipod Dock, TV dengan layar LCD, dan Pengering Rambut.
    Kamar Superior Dengan 2 Tempat Tidur Single
    Kamar beraneka warna dan modern dipadukan dengan sentuhan Bali, All Seasons Denpasar sungguh ideal untuk pelancong bisnis dan santai. Tiap kamar dilengkapi WiFi gratis serta musik dari Ipod Dock, TV dengan layar LCD, dan Pengering Rambut.
    Kamar Superior, 1 tempat tidur queen, dengan Ba lkon
    Kamar beraneka warna dan modern sungguh ideal untuk pelancong bisnis dan santai. Tiap kamar dilengkapi WiFi gratis serta musik dari Ipod Dock, TV dengan layar LCD, dan Pengering Rambut, terhubung ke balkon pribadi.
    Kamar Superior, 2 tempat tidur single, dengan B alkon
    Kamar beraneka warna dan modern sungguh ideal untuk pelancong bisnis dan santai. Tiap kamar dilengkapi WiFi gratis serta musik dari Ipod Dock, TV dengan layar LCD, dan Pengering Rambut, terhubung ke balkon pribadi.

Sunday, April 13, 2014

ogoh ogoh sumerta kelod 2014





Thursday, April 3, 2014

Berita Tsunami Kecil Dibali, BMKG Minta Warga Waspada

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bali menginstruksikan seluruh masyarakat khususnya yang berada di pinggir pantai untuk waspada. Sebab efek tsunami yang terjadi di Chile akan menerjang Bali pada Kamis (3/4/2014). Diprediksi ketinggian gelombang mencapai 0,5 meter atau setengah meter.

"Dampaknya akan menerjang pantai-pantai yang ada di Bali seperti Sanur, Kuta dan pantai lainnya di wilayah Bali," kata Kepala BMKG Bali Wayan Suardana.

Seperti diketahui, gempa berskala 8,2 skala richter mengguncang Chile dengan kedalaman 10 km di Pantai Utara Chile atau 240 Barat laut Bombay, India pada Rabu (2/4) pukul 06.46 WIB yang menimbulkan tsunami setinggi 1,92 meter di wilayah pesisir Chile, Peru, Ekuador, Kolombia, Panama, Kosta Rika dan Nikaragua.

Dampak tsunami Chile berakibat hingga ke wilayah Indonesia termasuk Pulau Bali. Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan BMKG, dampak gelombang tsunami Chile akan menghantam pantai-pantai Bali pada Kamis (3/4/2014) sekitar pukul 08.00-09.00 Wita.

Pada saat tertentu ketika cuaca Bali memburuk, ketinggian gelombang bisa mencapai 3 meter. "Dari kriteria itu maka kita mesti waspada saja. Tidak perlu dikhawatirkan. Yang terpenting adalah waspada," saran Suardana.

sumber : http://m.beritajatim.com/peristiwa/202787/tsunami_kecil_di_bali,_bmkg_minta_warga_waspada.html#.Uz1iTjvHmgQ

Tuesday, April 1, 2014

Perbedaan Ogoh - Ogoh Zaman Dulu Dan Sekarang

 Tidak terasa jaman semakin maju dan semakin terus berkembang. istilah perkembangan jaman ini disebut jaman modern. pada umumnya seperti ogoh - ogoh. siapa yang tidak mengenal ogoh ogoh? semua orang pasti mengenal ogoh - ogoh. ogoh ogoh adalah suatu karya seni yang berasal dari bali. perbedaan ogoh ogoh pada jaman dulu dan sekarang adalah

- jaman dulu
ogoh ogoh terbuat dari  bahan yang masih tradisional yaitu bambu. sehingga membuat ogoh ogoh kurang terlihat sangat bagus dan masih terlihat ulat - ulatan bambu yang menonjol pada permukaan ogoh - ogoh.
pada jaman ini ogoh ogoh masih sedikit, hanya 2-3 ogoh ogoh saja dalam satu banjar. ogoh ogoh pada jaman ini jika diendapkan dapat terurai dengan cepat, dan ogoh ogoh pada jaman ini sangat sulit untuk menjualnya.  tetapi pada jaman ini kekompakan pemuda pada banjar masing masing masih sangat terjaga, dikarenakan pada jaman ini warga masih bekerja sebagai petani.

-jaman sekarang
ogoh ogoh sudah mulai berkembang terbuat dari styrofoam (gabus) sehingga pada saat selesai malam pangerupukan ogoh ogoh ini biasanya dibakar. pada saat dibakar ogoh ogoh ini akan mengeluarkan asap yang sangat berbahaya dan dapat menimbulkan penyakit. tetapi untungnya pada saat menggunakan gabus ini ogoh ogoh dapat dijual kembali dengan pembeli tamu tamu dari luar negri yang sangat inisiatif melihat ogoh ogoh ini terlihat menarik sehingga tamu tamu ini pada umumnya akan memamerkan ogoh ogoh di negrinya. ogoh ogoh menggunakan gabus akan sangat terlihat bagus karena dilengkapi dengan kornis yang dapat membuat ogoh ogoh terlihat halus sperti nyata. pada jaman ini ogoh ogoh sudah mulai berkembang, dapat dilihat dari jalanan ogoh ogoh yang sangat banyak. dan pada jaman ini kekompakan pemuda di masing masing banjar sudah mulai berkurang karena kesibukan masing masing.

Wednesday, March 26, 2014

20 Ogoh - Ogoh Terbaik Kota Denpasar

Denpasar Timur :

-Br. Tohpati (Kesiman)
-Br. Batan Buah (Kesiman)
-Br. Abian Kapas Kaja (Sumerta Kaja)
-Br. Lebah (Sumerta Kauh)
-Br. Kesambi (Kesiman)

Denpasar Utara :

-Br. Petangan Gede Ubung Kaja (Ubung)
-Br. Tatasan Kaja (Tonja)
-Br. Tega Tonja (Tonja)
-Br. Belaluan Sadmerta (Dangin Puri)
-Br. Kedaton Tonja (Tonja)

Denpasar Barat :

-Br. Beraban (Dauh Puri Kauh)
-Br. Sapta Bumi (Tegal Harum)
-Br. Batannyuh (Pemecutan Kelod)
-Br. Abian Tegal (Dauh Puri Kauh)
-Br. Tegal Gede (Pemecutan Kelod)

Denpasar Selatan

-Br. Pegok (Sesetan)
-Br. Pitik (Pedungan)
-Br. Tengah (Sesetan)
-Br. Menesa (Pedungan)
-Br. Puseh Kauh Intaran (Sanur)

Tuesday, March 25, 2014

Ogoh-ogoh, Simbol Bhuta Kala Menjelang Nyepi



Sehari sebelum Nyepi, masyarakat Hindu khususnya di Bali, melaksanakan tradisi pengrupukan. Tradisi ini semacam prosesi mengembalikan bhuta kala ke asalnya. Menurut kepercayaan, mereka dibangunkan dengan alat-alat, umumnya obor; api saprakpak, sembur meswi, bunyi-bunyian kentongan yang dibawa mengelilingi seisi rumah. Sementara itu, berwujud ogoh-ogoh, sang “bhuta kala” lalu diarak menuju catus pata, perempatan.
Pawai ogoh-ogoh hampir selalu diadakan tiap kali menyambut hari raya Nyepi. Rupa mereka direka sedemikian rupa dengan variasi bentuk menyeramkan. Ada yang berwujud raksasa, perjelmaan dewa-dewi dalam murti-nya, mengambil tokoh dari cerita pewayangan atau memakai figur-figur yang sedang populer. Mereka dirakit memadukan estetika seni yang memikat secara visual.
Hampir setiap tahun, keberadaan ogoh-ogoh bak penggenap wajib dalam tradisi menyambut Nyepi. Pawai semarak selalu menjadi atraksi yang dinanti. Kebanyakan orang pasti bertanya perihal cikal bakal ogoh-ogoh dalam tradisi menyambut Nyepi. Salah satu yang tergelitik adalah Kadek Adhi Indrayana. Dia membuat penelitian tentang ogoh-ogoh secara akademis.
Lulusan S1 Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar yang mengambil program S2 Kajian Budaya ini, mengangkat keberadaan ogoh-ogoh dalam kaitannya dengan ritual Nyepi. Dalam tesisnya, putra pemilik Sanggar Gases Bali ini mencoba mengupas keberadaan ogoh-ogoh dalam hal bentuk, fungsi, dan makna. Ditemui di kantor kecilnya di Jalan Dukuh Sari ketika tengah melayani pelanggan pekan lalu, Kadek Adhi berbagi cerita sekaligus berkenan membagi materi tesisnya.
Ia mengawali perbincangan dengan mengatakan, ogoh-ogoh sebagai suatu bentuk perwujudan. “Ogoh-ogoh sesungguhnya merupakan gambaran akan bhuta kala yang diwujudkan ke dalam suatu bentuk,” terang Kadek Adhi.
Penamaan ogoh-ogoh pun diambil dari sebutan ogah-ogah dari bahasa Bali. Artinya sesuatu yang digoyang-goyangkan. Ogoh-ogoh diabadikan bahkan dalam sebuah lagu Bali cukup populer. Kata-kata itu dicatumkan sebagai lirik berbunyi “ogah-ogah, ogoh-ogoh, kala-kali lumamapah/ ogah-ogah, ogoh-ogoh, ngiterin desa…”.
Tahun 1983 bisa menjadi bagian penting dalam sejarah ogoh-ogoh di Bali. Pada tahun itu mulai dibuat wujud-wujud bhuta kala berkenaan dengan ritual Nyepi di Bali. “Ketika itu ada keputusan presiden yang menyatakan Nyepi sebagai hari libur nasional,” tutur Kadek Adhi. Semenjak itu masyarakat mulai membuat perwujudan onggokan yang kemudian disebut ogoh-ogoh, di beberapa tempat di Denpasar.
Budaya baru ini semakin menyebar ketika ogoh-ogoh diikutkan dalam Pesta Kesenian Bali ke XII. Delapan kabupaten ikut berkontribusi. Sebelum itu, menurut Kadek Adhi, hanya ada pawai-pawai tanpa ada bentuk perwujudan.
Lelakut
Tradisi mengembalikan Bhuta Kala ke asalnya di hari pengrupukan, disimbolkan dengan ogoh-ogoh, mirip tradisi lama masyarakat Hindu Bali. Tradisi Barong Landung, Tradisi Ndong Nding dan Ngaben Ngwangun yang menggunakan ogoh-ogoh Sang Kalika, disebutkan Kadek Andhi bisa juga dirujuk untuk menelusuri cikal bakal wujud ogoh-ogoh.

Di dalam babad, tradisi Barong Landung berasal dari cerita tentang seorang putri Dalem Balingkang, Sri Baduga dan pangeran Raden Datonta yang menikah ke Bali. Tradisi meintar mengarak dua ogoh-ogoh berupa laki-laki dan wanita mengelilingi desa tiap sasih keenam sampai kesanga. Visualisasi wujud Barong Landung inilah yang dianggap sebagai cikal bakal lahirnya ogoh-ogoh dalam ritual Nyepi.
“Ada tradisi Ndong-nding yang bisa juga dirujuk,” tambah Kadek Adhi. Ngusaba Ndong nding semacam tradisi pengusiran hama di Karangasem, menurut Kadek Adhi, ritual ini menggunakan lelakut, semacam orang-orangan sawah. Hama diibaratkan sebagai sang bhuta kala, energi negatif yang mengganggu manusia.
Begitu halnya ketika hari pengrupukan. Sang Bhuta Kala diberi upah berupa pecaruan, lalu disomya, disadarkan agar kembali ke asalnya. Dualisme itu ada dan harus diseimbangkan.
“Ada mantra khan yang bunyinya dewa ya, bhuta ya, kala ya,” ujarrnya. Diterangkannya, dewa dari div berarti sinar; bhuta dari bhu berarti gelap. Sedangkan kala yang berada di tengah-tengah, berarti energi atau kekuatan bisa juga waktu.
“Maka, ketika kala terpengaruh bhuta dia mengandung energi kegelapan, negatif menjadi bhuta kala. Sebaliknya, begitu juga pada dewa,” terangnya. Sifat-sifat itu juga ada dalam manusia. “Bila kita marah, menyeramkan, kita memiliki sifat-sifat bhuta,” urai kadek Andhi yang juga mengabdi sebagai mangku.
Ogoh-ogoh menurut Kadek Andhi juga digunakan dalam upacara ngaben. “Ada namanya Ngaben Ngwangun, salah satu tingkatan upacara ngaben, bisa berupa kakek atau nenek,” ungkapnya sembari menerangkan juga perihal Sang Kalika.
Kaca Rasa
Ogoh-ogoh merupakan budaya baru di Bali. Kehadirannya menjadi salah satu pelengkap ritual Nyepi. “Ada budaya-budaya yang mengalami proses tersakralisasi dan itu sah-sah saja,” paparnya. Eksistensi tradisi dalam pelaksanaan ritual umat Hindu di Bali saling melengkapi, sudah baur menjadi kesatuan.

Seiring waktu banyak yang mengkaji keberadaan ogoh-ogoh baik dari tafsir agama, seni dan budaya. “Setelah dikaji dan dikaitkan dengan konsep agama, ogoh-ogoh lebih mengarah ke bentuk tradisi,” ujar kadek Adhi.
Ogoh-ogoh merunut jejaknya, kemunculannya lebih kepada suatu bentuk simbolisasi. Menyimbolkan energi-energi negatif sang bhuta kala, dengan perwujudan menyeramkan untuk dipralina, dilebur dengan air maupun api. “Umpamanya, kalau mau mengusir yang jahat pakailah perwujudan yang serem juga,” candanya. Logika ini ia namai dengan konsep kaca rasa, yang memberikan suatu cerminan atas sesuatu yang terlihat.
“Sebagai suatu bentuk karya seni, ia juga tak bisa dilepaskan dari unsur Satyam, Siwam dan Sundaram,” jelasnya. Konsep penciptaan dalam masyarakat Hindu sangat terkait dengan unsur Kebenaran (satyam), kebaikan/kesucian (siwam) dan keindahan (sundaram).

sumber : http://www.balebengong.net/kabar-anyar/2011/02/28/ogoh-ogoh-simbol-bhuta-kala-menjelang-nyepi.html